Sabtu, 07 Desember 2013
Minggu, 27 Oktober 2013
refleksi peringatan hari sumpah pemuda
Refleksi Peringatan Hari
Sumpah Pemuda
Pemuda, ini
merupakan sebuah figure yang sangat penting dalam setiap perjalanan bangsa.
Banyak sejarah yang menyatakan bahwa perjuangan suatu bangsa itu tidak akan
pernah lepas dari peran pemuda. Hal tersebut dapat dilihat dari sejarah-sejarah
berdirinya suatu peradaban atau bangsa. Seperti pada zamannya Rasulullah
sendiri, peran pemuda sudah mulai terlihat. Dimana, Rasulullah itu dalam
menyebarkan agama islam juga ikut merekrut para pemuda, misalnya Ali bin Abi
Thalib, Mus’af bin Umair, dan yang lainnya. Hal tersebut menggambarkan bahwa perjuangan
untuk menyebarkan agama islam juga membutuhkan pemuda.
Di Indonesia
sendiri, peran pemuda juga sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaannya.
Dalam sejarahnya, perjuangan untuk memproklamirkan kemerdekaan Negara ini,
pemuda berperan besar di dalamnya. Seperti Sultan Syahrir dan rekan-rekannya
yang mempunyai gebrakan baru untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia
tanpa ada pengaruh dari pihak jepang.
Sumpah Pemuda,
merupakan momentum bagi pemuda Indonesia untuk menyatukan diri untuk menjadi
bangsa yang satu. Bangsa yang satu untuk melawan penjajahan. Sehingga perjuangan
bangsa Indonesia tidak melakukan perjuangan dengan perjuangan sendiri-sendiri
tapi dilakukan serentak, sesuai dengan cita-cita bersama bangsa Indonesia.
Minggu, 06 Oktober 2013
Seri Mencari Pahlawan Indonesia
Keberanian
oleh ust Anis Matta
Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawanan
adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan
seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah
seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah
membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar
atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu
membutuhkan kadar keberanian yang sama besamya
dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan
dan tantangan besar itu selalu menyimpan risiko. Dan,
tak ada keberanian tanpa risiko.
Naluri kepahlawan adalah akar dari pohon kepahlawanan.
Akan tetapi, keberanian adalah batang yang
menegakkannya. Keberanian adalah kekuatan yang
tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang
untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan
maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau
untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari
sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang
akan diterimanya.
Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam Al-Qur'an.
Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para
pemberani. Cobalah perhatikan betapa Al-Qur'an memuji ketegaran dalam perang, dan sebaliknya membenci para
pengecut dan orang-orang yang takut pada risiko
kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadits
riwayat Muslim ini, "Sesungguhnya pintu-pintu surga itu
berada di bawah naungan pedang?" Adakah makna lain,
selain dari kuatnya keberanian akan mendekatkan kita
ke surga? Maka, dengarlah pesan Abu Bakar kepada
tentara-tentara Islam yang akan berperang, "Carilah
kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan."
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam
dalam diri seseorang. Sehagian yang lain biasanya
diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang
bersumber dari fitrah maupun melalui latihan, selalu
mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan
kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat
terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari
akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru untuk
bertemu Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan
keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan,
meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya,
seperti jenis keberanian Ibnu Mas'ud dan Abu Bakar. Sebaliknya,
ia bisa menjadi lebih berani dengan dukungan
fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.
Akan tetapi, Islam hendak memadukan antara keberanian
fitrah dan keberanian iman. Maka, beruntunlah
ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak
untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah saw, "Ajarilah anakmu berenang sebelum
menulis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia
tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain
jika ia tak mampu berenang."
Dengar lagi sabdanya, "Kekuatan itu pada memanah,
kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada
memanah." Itu semua sekelompok keterampilan fisik
yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal
lagi keberanian iman. Maka, dengarlah nasehat Umar,
"Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu
dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."
Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung di
balik benteng di Kinasrin, Khalid berkata, "Andaikata
kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami
akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata
kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan
menyelami bumi untuk membunuh kalian." Roh keberanian
itu pun memadai untuk mematikan semangat
perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk. Mungkinkah
kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini?
Rabu, 11 September 2013
Seri Mencari Pahlawan Indonesia
Naluri Kepahlawanan
oleh ust anis matta
pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya
dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai
naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar
dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang
mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita
menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.
Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela
menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para
pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para
pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari
cara mereka membalas utang budi.
Mungkin, karena itu pula para pahlawan selalu
muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di
tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa
beban yang tak dipikul oleh manusia manusia di
zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit.
Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika
naluri kepahlawanan mereka merespon tantangantantangan
kehidupan yang berat. Ada tantangan dan
ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya
pekerjaan-pekerjaan besar.Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan
Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan
dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak
mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai
beban berat, maka mereka menghindarinya dan dengan
sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat.
Namun, orang-orang yang mempunyai naluri
kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan
kehidupan itu: Ini untukku. Atau seperti ungkapan
orang-orang shadiq dalam perang Khandaq yang
diceritakan Al-Qur' an,
Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongangolongan
yang saling bersekutu itu, (dalam menghadapi
orang-orang beriman), mereka berkata, 'Inilah yang
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan
benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu
tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan
ketundukkan. (AI-Ahzab: 22)
Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang
dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Hal itu akan
menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya
sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal
yang sama? Dan jika ia merasa memiliki kesiapankesiapan
dasar, maka ia akan menemukan dorongan
yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya
untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan
adalah kekuatan yang mendorong munculnyapotensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang,
kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib
kepribadian seseorang.
Dalam serial Jenius-jenius Islam, Abbas Mahmud Al-
Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar As-
Shiddiq dalam kata kekaguman kepada kepahlawanan.
Kunci kepribadian, kata Al-Aqqad, adalah perangkat
lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian
seseorang. la berfungsi seperti kunci yang dapat
membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua
ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat
memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan
Abu Bakar dalam kunci rahasia ini. Apakah
Anda juga memiliki kunci rahasia itu? Saya tidak tahu.
Minggu, 08 September 2013
Seri Mencari Pahlawan Indonesia
O, Pahlawan Negeriku
oleh: ust. anis matta
Di masa pembangunan ini", kata Chairil Anwar
mengenang Diponegoro, "Tuan hidup kembali.Dan bara kagum menjadi api".
Kita selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita
melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat
itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chairil Anwar
tahun itu, 1943, yang merindukan Diponegoro. Seperti
juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan
pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan
satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini
hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam
gunungan ombak.
Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu.
Pahlawan yang, kata Sapardi, "telah berjanji kepada
sejarah untuk pantang menyerah". Pahlawan yang kata
Chairil Anwar, "berselempang semangat yang tak bisa
mati." Pahlawan yang akan membacakan "Pernyataan"
Mansur Samin:
Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah bangkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan
Maka datang jugalah aku ke sana, akhirnya.Untuk kali
pertama. Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata.
Seperti dulu aku pernah datang ke makam para sahabat
Rasulullah saw di Baqi' dan Uhud, di Madinah. Karena
kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti
mewakili mereka:
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan
arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan
Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang
kita berikan kepada mereka? Ataukah tak lagi ada
wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu
melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak
lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di
tahun 1966, "merelakan kalian pergi berdemonstrasi..
karena kalian pergi menyempurnakan..Kemerdekaan
negeri ini."
Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang
kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata
Sayyid Quthub, "Kau mulai jemu berjuang, lalu kau
tanggalkan senjata dari bahumu?"
Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus
jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak,
biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan
itu.
Kamis, 05 September 2013
ketika kita mencintai dalam hati
TRAGEDI CINTA
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?
Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.
Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.
Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.
Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.
Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan bilogis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?
Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.
Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi justru Sang Imam mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.
Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.
Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.
Sayyid Quthub tenggelam pada penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya semakin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.
Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, relaisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah!
Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!
Perenungan
Dimana rumahmu Nak?"
Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?
Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?
Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
Lokasi: padang, sumatra barat, Indonesia
Padang, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Rabu, 04 September 2013
contoh proposal pemilihan umum raya
|
PENDAHULUAN
|
Sudah menjadi suatu kelaziman, dalam suatu kelompok
sosial terdapat seorang leader (pemimpin). Bahkan, dua atau tiga orang pun
sudah lazim atau layak adanya leader (pemimpin) diantaranya (Muhammad
SAW). Sehingga dengan demikian, akan terarah dengan satu tujuan (misi) bersama
yang jelas, kemana perahu ini akan berlayar dan menepi ?
Namun hal ini tidak berlaku secara permanen. Oleh karena
itu regenerasi merupakan suatu hal yang sangat diperlukan dalam menjaga
eksistensi dari suatu kelompok sosial tersebut. Karena jika tidak, maka akan
terjadi lost generation.
Selayaknya suatu negara yang dipimpin oleh presiden,
raja, atau sejenisnya. Hal ini juga berlaku dilembaga pendidikan yang basisnya
adalah kaum menengah elit intelaktual.
Dengan kondisi sosial masyarakat yang heterogen, mulai
dari gaya rambut yang berminyak disisir dan berpenampilan rapi dengan baju
kemeja serta memakai sepatu, sampai pada yang berpenampilan serba gaul pakai kaus oblong,
sandal dan rambut ala duri landak (funky). Itupun baru sebatas penampilan.
Sekelompok mahasiswa yang so (study oriented) dan organisatoris juga memberikan
nuansa heterogenitas dalam suatu miniatur sebuah negara.
Baik buruknya suatu negara dimasa yang akan datang,
terletak pada pemudanya. Terlebih adalah pemuda yang berbasis intelektual.
Karena merekalah penerus atau pemegang estafet bangsa. Oleh karena itu, terbentuknya
pemerintahan negara dalam koridor demokratis, bermoral, adil, dan lebih
mengutamakan kesejahteraan masyarakat, merupakan harapan kita semua demi
terwujudnya kehidupan yang harmonis ditengah heterogenitas yang tinggi.
Mahasiswa juga memiliki tanggung jawab moral akan amanah
dari orang tua masing-masing dalam memperdalam wawasan atau khasanah, baik
secara intelektual, ataupun pembentukan idealisme diri yang kelak dapat
dijadikan panutan ditengah masyarakat. Sehingga dengan demikian ia akan mampu
membangun karakter ditengah masyarakat yang berada dalam struktur sosial suatu
negara dengan segala heterogenitas yang ada di dalamnya.
Hal ini sesuai dengan fungsinya, bahwa mahasiswa adalah
sebagai ”iron stock (perangkat keras/cadangan), the future leader (pemimpin
yang akan datang), danagent of change (agen perubahan)”.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan lembaga-lembaga
yang mampu mengkoordinir dan menyalurkan kepentingan-kepentingan dalam upaya
pencapaian tujuan bersama. Dengan adanya gerakan dan barisan yang dibentuk
kokoh dan tangguh dalam menghadapi halangan dan rintangan baik dari internal
maupun eksternal.
Berdasarkan konstitusi Negara Mahasiswa
KM UNAND yaitu SK No. II Sidang Istimewa MPM KM UNAND Bulan November 2012, masa bakti pengurus BEM 2012-2013
telah berakhir
Maka Badan Pemilihan Umum
(BPU) KM UNAND
yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) KM UNAND, mengadakan Pemilihan Umum Raya
(PEMIRA) UNAND 2013 sebagai sebuah proses regenerasi
kepemimpinan, baik tingkat legislatif ataupun eksekutif.
PEMIRA ini merupakan pesta demokrasi terbesar mahasiswa UNAND
karena merupakan proses pemilihan Presiden Mahasiswa
dan DPM UNAND yang secara langsung melibatkan peran aktif mahasiswa secara
keseluruhan. PEMIRA juga merupakan momentum berharga dalam terbentuknya proses
regenerasi kepemimpinan, karena kualitas pimpinan yang dihasilkan adalah
tergantung kepada kualitas ajang seleksi tersebut. Dengan dilaksanakannya PEMIRA 2013
maka akan lahirlah sebuah generasi baru dalam sejarah Negara
Mahasiswa UNAND yang diharapkan dapat menyampaikan aspirasi seluruh
mahasiswa UNAND dan memperkaya pengalaman sebagai proses pembelajaran dalam menghadapi heterogenitas yang kompleks dalam mewujudkan negara
indonesia sejahtera.
|
TEMA
|
Adapun tema dari pesta
demokrasi ini adalah “Sukseskan PEMIRA demi terciptanya pesta demokrasi
dalam kampus Universitas Andalas untuk mewujudkan Negara mahasiswa yang ideal”
|
TUJUAN
|
ü
Sebagai fasilitator dalam
proses regenerasi atau estafet dari lembaga eksekutif dan legeslatif KM UNAND
ü
Mendorong peran aktif
mahasiswa menyalurkan haknya dalam kancah perpolitikan mahasiswa, sebagai
miniatur warga dalam suatu negara
ü
Menumbuhkan pemahaman dalam
berpolitik
ü
Terpilihnya pemegang estafet
lembaga mahasiswa, baik eksekutif maupun legislatif KM UNAND yang bertanggung
jawab, berakhlak, dan mampu membangun peradaban kampus.
|
SASARAN
|
Sasaran dari kegiatan PEMIRA KM UNAND 2013 adalah seluruh mahasiswa universitas andalas yang masih aktif atau
terdaftar dalam kegiatan akademik tahun ajaran 2013/2014.
|
AGGARAN DANA
|
Sumber dana dari kegiatan ini
didapatkan dari proposal dan sponsor dengan rincian dana terlampir.
|
PENUTUP
|
Demikianlah proposal ini kami buat.
Semoga dapat memberikan gambaran yang jelas pada semua pihak yang membacanya
dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Atas perhatian, bantuan, serta kerja
sama yang diberikan, kami ucapkan tarima kasih.
Padang, Maret 2013
Hormat Kami,
Panitia Pemilihan Umum KM UNAND 2013
Ridho Rivaldo Indhie FH Lubis
Ketua Sekretaris
Menyetujui,
Badan Pemilihan Umum
Ricke Anja Kesuma
Ketua
LEMBAR PENGESAHAN
PEMILIHAN UMUM
RAYA
HORMAT KAMI
PANITIA PEMILIHAN UMUM RAYA
|
Ridho Rivaldo
Ketua
|
|
Indhie FH Lubis
Sekretaris
|
|
Mengetahui,
Wakil Rektor III
Universitas Andalas
|
Mengetahui/Menyetujui
Badan Pemilihan Umum
Keluarga Mahasiswa
Universitas Andalas
|
|
Prof. Dr. H. Novesar Jamarun, MS
NIP. 196205061988111001
|
Ricke Anja
Kesuma
Ketua
|
Lampiran I
|
ANGGARAN
DANA PEMIRA 2012
|
A. Data Dan Informasi
Jumlah Rp. 1.437.000,-
B. Tim Kreatif dan Humas
Jumlah Rp.3.785.000,-
C. Perlengkapan Dan Keamanan
Jumlah Rp. 8.015.000,-
D. Konsumsi
Jumlah Rp. 7.450.000,-
Total Anggaran Dana
Total Dana Yang Dibutuhkan Rp. 22.755.000,-
Lampiran II
|
TIME SCHEDULE PEMIRA KM
UNAND 2013
|
v
Pendaftaran & wawancara PPU 22-1
Feb-Maret
2013
v
Pengumuman PPU Jadi
1
Maret 2013
v
Pembentukan PPU 2 Maret 2013
v
Konsolidasi PPU 2 Maret 2013
v
Sosialisasi PEMIRA 6-18 Maret 2013
v
Pembentukan Tim Pemantau 11
Maret 2013
v
Masa Pendaftaran CAPRES & CADPM 11-20
Maret 2013
v
Verifikasi calon 21-22
Maret 2013
v
Penetapan Calon No. Urut 23
Maret 2013
v
Kampanye Monologis & Dialogis 25-5 Maret-April 2013
v
Masa Tenang 6-8
April 2013
v
PEMIRA 9 April 2013
v
Perhitungan & Penetapan 9-10
April 2013
v
Penyampaian Hasil PEMIRA oleh BPU 13 April 2013
Lampiran III
|
KEPANITIAAN
PEMIRA KM UNAND 2013
|
Pelindung : Dr.H. Werry Darta Taifur,SE,MA
Rektor UNAND
Penasehat : Prof. Dr.
H Novesar Jamarun ,MS
Wakil Rektor III
Penanggung Jawab : Azmy Uzandy
Presiden Mahasiswa UNAND
BPU (Badan
Pemilihan Umum)
PPU (Pamitia Pemilihan Umum)
Ketua : Ridho rivaldo Teknik
Sekretaris : Indhie FH Lubis FISIP
Bendahara :
Delvia Nisti Teknik
Pertanian
DATIN (Data dan Informasi)
Koordinator : Miming gustina Ilmu Budaya
Anggota : Diah
permata sari Kedokteran Anisah Khayrani Hasibuan Keperawatan
Yelsi Listiana Dewi Peternakan
Eka Prihandini E Farmasi
Chyara
Elisa Nofianti Farmasi
Vindyra
Hadi Farmasi
Nowiyanto
Peternakan
Michael
Cham Teknologi
Informasi
Fina
Mutia Yahya Keperawatan
Mara
Halim Nasution Teknik
Pertanian
Mulia
yurnalisa Keperawatan
Putri
Rinanda Sari MIPA
Vinadita
Utari Hukum
Yusi
Febriana MIPA
Pratiwi Tamela Kesehatan
Masyarakat
TPS dan Kampanye
Koordinator : Miming Perdana MIPA
Anggota : Nasmalinda Peternakan
M. Rarif hilliard A Teknik
Engki
Yondi Saputra Peternakan
Santti Duliem Fauziah Kedokteran
Shela
Diana Putri Kedokteran
Zakiah
Harahap Hukum
Bobi
Rizki Anmida FISIP
Ahmad
Habibi Peternakan
Retno
Intan Juliani Farmasi
Tri
Suci ramadhani Hukum
Azmul
Pawzi Ekonomi
Imadie
yaqzhan Kedokteran
Fitri
Khairiyah Keperawatan
Alwindra
Nasution Peternakan
Indah
Wahyuni FISIP
Kenny
Jaspita Lumbantoruan FISIP
Zulni
Afdal Ekonomi
Dara
Rifka Mahzura MIPA
Lara
mahlindiani MIPA
Istiana
Alfikriyah D Farmasi
Doki
Wardiman Teknik
Pertanian
Ayu
Permata Sari Kesehatan Masyarakat
Vera
Nurmala Sari FISIP
Ary
Sukma Putra Teknik
Dia
febriantika Hukum
Mega
Mustika Teknik
Pertanian
Feni
Fionita Hukum
Tim Kreatif Dan Humas
Koordinator : Martin Aulia Ramadhan Pertanian
Anggota : Fina
Riana Anwar FISIP
Vanni Suryani Ilmu
Budaya
Ulva Putra Peternakan
Suci Komala Dewi Pertanian
Gunawan Peternakan
Sri Auliya Novita FISIP
Sri Rahayu FISIP
Maisarah Keperawatan
Lia Maharani Keperawatan
Aulia Annisa Peternakan
Radiyul Fahmi Peternakan
Rani Permata Sari Farmasi
Rizka Fajriani Keperawatan
Jusbianto Peternakan
Rista
Gusriyeni Peternakan
Konsumsi
Koordinator : Cynthia noverina Farmasi
Anggota : Dony
Alqadri Ramadhan Pertanian
Yefsi Malrianti Teknik
Pertanian
Asri Yulianti Teknik
Pertanian
Diani Safitri Teknik
Pertanian
Laila Elsera Farmasi
El Soraya Yusfa Farmasi
Fini Yulianita Peternakan
Yuni Anggraini Pertanian
Nurul Hasanah Teknik
Faisal Ariadi Teknik
Pertanian
Najla Aldina N Peternakan
Ulfah Khairun
Nisah Teknik
Pertanian
Perlengkapan Dan Keamanan
Koordinator : Dwiyandra P FISIP
Anggota : Tia
Maroctavia Teknik
Pertanian
Brigita Sabrina Ridwan Teknik
Pertanian
Thoha Hanafi Peternakan
M. Qamarul Hadi Peternakan
Imam Alnadi Putra Teknik
Masagus rifqie Saputra Teknik
Wiwing
Permata Putra Teknik
Harry Yovandi Yazid Peternakan
Hengky Saputra Teknik
Hari Gunawan Teknik
Pertanian
Ghani Tasrif Teknik
Pertanian
Fauzan Azhari Lukman Ilmu Budaya
Annisa Nofriani Farmasi
Devona Olivia Farmasi
Mutia Permata Sari Farmasi
Hazri Septia Teknik
Pertanian
Ahmad Arif Teknik
Pertanian
Hesti Oktavianda Farmasi
Fachrimon Donal Hukum
Deli Putra Peternakan
Muhammad Abdi Mulya Ilmu Budaya
Wahid Kurnia Peternakan
Rio Januar Peternakan
Risandi Jasvin Peternakan
Rofiatul Ummah Teknik
Pertanian
Lilia nonita Teknik
Pertanian
Shinta Wandira Peternakan
Ainul Mardiah MIPA
Gilang Gutama Putra Rasadi Teknik
Okta Fratama A FISIP
Langganan:
Postingan (Atom)